Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Ite Arin, Pohon Kehidupan Orang Kedang di Lembata

 

 

Selain ite, di dalam kampung lama juga terdapat pohon beringin yang dilindungi

RakatNtt - Filsafat berpikir orang timur selalu tertuju pada harmoni antara manusia dan alam. Konsep antroposentrisme Eropa dipandang sebagai bentuk dari keserakahan manusia yang mementingkan diri sendiri tanpa bertanggung jawab terhadap alam dan konsekuensi lanjutannya.

Keselarasan dengan alam sering kita temukan dalam kehidupan masyarakat adat di Nusantara. Masyarakat adat Kedang di Kabupaten Lembata, NTT, juga melihat alam yang nampak misalnya melalui pohon atau hutan, tanah dan air sebagai saudara yang tak sebebasnya dieksploitasi dengan kaca mata antroposentrik.

Kali ini, kita akan mendalami secara singkat sebuah ritus adat yang dilakukan di bawah pohon rita. Ritus ini singkatnya untuk meminta berkat dari Wujud Tertinggi, Leluhur dan alam semesta. Juga jika dipahami lebih luas, sebenarnya ada aspek ekologis; hubungan manusia dengan alam yang terimplisit pada ritus tersebut.

Poan Arin

Sebutan ini menggambarkan sebuah ritus sakral dengan tujuan utama  untuk mendapat berkat dari Wujud Tertinggi, alam semesta dan leluhur. Tiga kekuatan ini, selalu menjadi sandaran masyarakat adat Kedang. Dalam setiap ritus, tiga kekuatan tersebut selalu disebut sebagai pemberi jawaban atas harapan-harapan masyarakat adat bersangkutan.

Poan arin adalah ritus untuk meminta berkat, misalnya berkat keturunan yang berlimpah atau rezeki. Kata arin sendiri bermakna kehidupan yang tak pernah putus. Makanya, Wujud Tertinggi dalam budaya Kedang sering disebut sebagai Amo Nimon Rian Arin Bara’ yang berarti Bapa Tuan besar sumber kehidupan.

Frasa arin bara’ artinya kehiduan yang tak putus. Tuhan adalah sumber segala kehidupan.

Dalam konteks Poan Arin ini, seringkali warga suku yang mempraktikan ritus meminta berkat keturunan yang banyak.

Doa-doa sakral yang diucapkan oleh molan atau pemimpin ritus selalu menggunakan bahasa konotatif yang amat puitis. Hal yang unik ialah, doa meminta berkat selalu menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan alam, khususnya pohon-pohon.

Saya mencatat beberapa ungkapan singkat sebagai berikut:

Ite puhun mude lolon, ite olor aur ayang, howe’ ur tubar, peting name’ lein, onga’ latong aya’ honga’ lela’ lein, doke’ ite olor, bake’ aur ayang, teder kuna ua, iher dewa talu, mere’ kie’ howe’ manga, peting kie’ howe’ tarang, noye’ leu leran awu’

Secara singkat dapat diterjemahkan bahwa Wujud Tertinggi, alam dan leluhur memberikan berkat (ite olor aur ayang - pohon rita yang lurus dan bambu yang masih muda atau baru tumbuh) juga memohon keamanan bagi segenap warga suku.

Saya tidak menjelaskan lebih detail soal ritus ini, anda bisa baca di sini Namun, hanya mau menekankan soal cara orang Kedang memaknai relasinya dengan alam, khususnya pohon-pohon yang dalam ritus adat dilakukan di bawah pohon rita.

Ite Arin, Pohon Kehidupan

 

Ite arin adalah pohon rita yang disakralkan karena di bawah pohon tersebut disimpan batu-batu sakral untuk melakukan ritus poan arin. Pohon rita ini ada di kampung lama setiap suku atau marga di Kedang. Selain ite arin, ada juga ite koda.

Ite arin suku E'apu'en di Mahal


Ite arin tak boleh ditebang, mengupas kulitnya pun dilarang. Orang yang menebang ite arin, dalam keyakinan orang Kedang akan mendapatkan petaka yakni kulitnya akan luka-luka tanpa sebab dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis.

Terlepas dari ritus adat, hal lain yang mesti dilihat adalah melalui ritus di bawah pohon rita, ada makna intrinsiknya yakni mau memberi pesan kepada manusia untuk menjaga keharmonisan dengan alam.

Pohon-pohon bukan benda mati melainkan mereka juga punya jiwa, rasa dan cinta terhadap manusia. Frasa ite arin menegaskan bahwa dengan menjaga keharmonisan dengan alam, pohon-pohon, sebuah kehidupan itu bisa terus bertumbuh.

Maka, sebenarnya, di dalam tradisi masyarakat adat, konsep tentang ekologi sudah diajarkan bahkan dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Artinya tak boleh melanggar.

Dengan demikian, maka manusia yang hidup pada dunia zaman kini, tak boleh memandang rendah pengetahuan lokal apalagi melihatnya lebih rendah dari ajaran agama, kitab suci atau sains.

Pengetahuan lokal selalu punya manfaat untuk kehiduan manusia. Buktinya, ribuan tahun, nene moyang kita hidup melekat dengan ritus-ritus adat bahkan diwariskan hingga kini.

Melalui tulisan ini, tentunya kita diajak untuk melihat kembali ritus-ritus dan tradisi adat kita, mendalaminya, dan memahaminya sebagai salah satu referensi membangun kehidupan.

Post a Comment for "Ite Arin, Pohon Kehidupan Orang Kedang di Lembata"