Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Apakah Kepercayaan Lokal Kita Berhala?

 

Ritus Poan Kemer di Kedang Lembata selalu ada batu-batu, tuak, ayam

 

RakatNtt - Orang sering menyebut bahwa kepercayaan berhala identik dengan animisme, politeisme, Dinamisme dan kepercayaan lainnya yang memiliki kemiripan. Serentak pula dengan bangga mengatakan kepercayaan yang benar dan bukan berhala adalah kepercayaan tertentu dengan rupa-rupa dalil.

Masing-masing kita bisa cari tahu sendiri asal-usul kata berhala dan ciri khasnya. Hal yang umum disepakati adalah, kepercayaan berhala merujuk pada penyembahan pada batu, kayu, patung dan lain-lain.

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah kategori kepercayaan berhala sebagaimana dipahami secara umum selama ini adalah sebuah kepercayaan yang salah? Apakah ada hukuman jika orang menyembah batu, kayu atau dengan ungkapan lain; apakah kepercayaan berhala itu buruk dan layak mendapat hukuman? Hukuman model apa? Masuk neraka? Kapan? Mana buktinya?

Tentu masing-masing kita bisa mengarang cerita untuk menegaskan bahwa kepercayan kita paling benar. Namun, satu hal yang pasti adalah orang yang dikategorikan masih menyembah berhala justru meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik, benar dan bermanfaat bagi mereka. Artinya, tak ada kebenaran tunggal dalam kepercayaan-kepercayaan; yang ada adalah kebenaran-kebenaran. Tepat di sinilah, sebagai manusia yang waras, penting sekali kita saling menghormati konsep teologis yang berbeda-beda.

Setiap konsep teologis yang berbeda itu hanya bisa dijembatani dengan jalan diskusi bukan berdebat tentang kepercayaan. Sebab Wujud Yang Tak Kelihatan dipercaya sebagai yang maha besar melampau logika manusia.

Ia tidak bisa diperdebatkan tetapi hanya bisa dihayati dalam pengalaman iman masing-masing pribadi.

Hal inilah mengapa sangat tidak layak jika masih ada konten kreator media sosial yang menjadikan debat agama sebagai konten. Idealnya, perbedaan teologis itu didiskusikan untuk mengetahui mengapa Si A percaya ini dan Si B percaya itu, cukup sampai disitu. Bukan memaksakan kepercayaan kita kepada orang lain.

Kepercayaan Lokal Kita

Sampai hari ini jika kita bertanya; apa itu kepercayaan berhala? Orang pasti jawab, berhala adalah percaya pada batu, pohon dan lain-lain sebagai benda yanng punya roh atau kekuatan.

Lah, kalau demikian, penulis artikel ini bisa dikategorikan sebagai penyembah berhala. Sebab hingga saat ini saya masih mempraktikkan ritus pada batu-batu sesaji, buat ritus di bawah pohon dan kurbankan hewan dan percik darah ayam pada batu. Lalu apakah saya menyembah berhala? Siapa yang layak mengkategorikan saya sebagai penyembah berhala? Lalu yang tidak berhala itu seperti apa?

Pada konteks pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kita dituntut untuk berani berpikir sendiri, berani mempertanyakan iman kita, mengkritik apa yang kita percaya. Sembari juga berani membela diri, memertahankan kepercayaan kita dengan tak perlu mengganggu kepercayaan orang ain.

Jika, saya merasa nyaman ketika melakukan ritus di bawah pohon besar, ada pengalaman iman yang saya peroleh setelah ritus; apakah saya wajib dihukum untuk masuk neraka? Padahal tujuan orang mempraktikkan sebuah ritus adalah untuk mendapatkan sesuatu yang baik.

Menurut saya, masing-masing orang punya kategori kebenaran dalam kepercayaanya. Orang masih buat ritus di bawah pohon karena ada pengalaman iman yang dirasakan; ada kekuatan yang diperoleh dan itu dianggap atau dipercaya sebagai kebenaran.

Lalu, apa kira-kira contoh berhala yang paling tepat. Ya, alternatifnya banyak. Namun, jika berhala dilihat sebagai sebuah konsep yang mengatakan orang yang melakukan praktik religi di bawah pohon dan batu besar sebagai yang tidak benar, patut ditolak.

Konsep berhala seperti ini harus diubah. Bahwa tak ada kepercayaan yang berhala. Justru yang berhala adalah tingkah laku menyimpang orang-orang beragama; rajin berdoa tapi suka mencuri, tidak menghargai perbedaan, korupsi, membunuh, memperkosa dan tindakan-tindakan salah lainnya.

Atau sebuah praktik kepercayaan yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa manusia misalnya, bisa dikategorikan sebagai berhala.

Dalam kaitan dengan tingkah laku manusia, ada bahasa sinisme menarik dari suku Boti di TTS, NTT. Ketika orang bertanya mengapa orang Boti Dalam tidak mau menerima agama dari luar? Jawaban mereka amat singkat sarat makna, “coba cek di penjara, apakah di dalam penjara ada orang Boti?”

Kepercayaan Tradisional dan Ekologi

Kepercayaan tradisional yang kita temukan di nusantara ini, praktik religinya selalu dilakukan di bawah pohon atau ada batu sebagai tempat sesaji. Pohon-pohon besar ini, mestinya dibaca sebagai konsep ekologis. Tak perlu jauh-jauh, kita bisa temukan di sekitar kita, di Lembata misalnya.

Ada pohon-pohon tertentu dianggap sakral. Oleh karena itu tak boleh ditebang. Artinya, masyarakat adat dengan praktik religinya sudah menjelaskan hubungan manusia dengan alam.

Proyek-proyek eksploitasi dimana-mana selalu mendapat perlawanan dari masyarakat adat. Demo tolak tambang di Lebata tahun 2008 misalnya, yang paling depan melawan adalah masyarakat adat didukung dengan ritus-ritus yang dilakukan oleh para molan.

Artinya, manusia, alam dan konsep kepercayaan lokal selalu berkesinambungan. Dengan demikan, apakah kita masih memandang rendah kepercayaan-kepercayaan tradisional kita? Yang harus kita lakukan adalah pertama, tak boleh memandang rendah kepercayaan lokal. Kedua, terlibat dan menggali nilai-nilai teologis di dalamnya.

Selamat berpikir. Beranilah berpikir sendiri. Apa yang kita miliki, yang diwariskan oleh nenek moyang kita tak harus dipandang rendah.

Post a Comment for "Apakah Kepercayaan Lokal Kita Berhala?"