Pendidikan Seksual dalam Budaya Kedang
Sarung Kedang |
Pengantar
Pendidikan seksual merupakan suatu hal yang tabu dalam keyakinan kebanyakan masyarakat yang masih memegang kuat budaya tradisional. Mereka memegang konsep tradisional bahwa seksualitas merupakan hal yang sakral atau suci sehingga tidak boleh dibicarakan di ruang publik. Jika konsep seperti ini dilanggar, akan ada anggapan bahwa hukum moral telah dilanggar dan tentunya ada akibat negatif dalam relasi sosial. Contoh riil tentang hal tersebut bisa ditemukan dalam budaya Masyarakat Kedang di Kabupaten Lembata. Dalam kehidupan saban hari, segala hal yang berkaitan dengan seksualitas jarang dibicarakan sebab sangat dilarang sesuai budaya mereka. Namun, sesuai perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, kebiasaan seperti itu ternyata kurang efektif bagi perkembangan kehidupan seksual manusia. Berkaitan dengan dua kontradiksi konsep tentang seksualitas ini, saya mencoba meneliti pendidikan sikap dan tingkah laku seksual dalam budaya Kedang yang masih didominasi oleh konsep tradisional.
Ajaran Tradisional Seksualitas
Kalau masyarakat Kedang khususnya
anak-anak secara bebas berbicara segala hal terkait seksualitas, sudah pasti
akan ditegur oleh orangtua walaupun yang mereka bicarakan adalah hal positif
dalam ilmu pengetahuan. Hal ini sangat wajar sebab sejak permulaan orangtua
yang ada di kampung memiliki pemahaman yang sama tentang seksualitas. Konsep
ini mereka wariskan sebab sudah ada dalam budaya lokal yaitu tentang tabu.
Untuk mencari tahu dasar bahwa orang Kedang melihat seksualitas sangat tabu
bisa ditemukan dalam ungkapan Amo Laha
Tala yang berarti Bapa (Tuhan) menciptakan selangkangan atau rahim atau
kemaluan itu sendiri. Dalam keyakinan mereka, kemaluan adalah bagian pertama
yang diciptakan oleh Tuhan makanya sangat suci dan pantang dibicarakan apalagi
diajarkan di rumah oleh orangtua walaupun dengan alasan pendidikan dewasa ini.
Mereka yakin bahwa murka Tuhan akan datang tatkala seksualitas dibicarakan atau
diajarkan oleh orangtua terhadap anak, padahal sangat jelas konsep ini kurang
benar. Artinya, dalam rutinitas berkeluarga di Kedang, orangtua merasa bahwa
mengajarkan anak tentang hal-hal urgen seksualitas adalah sebuah larangan,
makanya dibiarkan saja sampai anak-anak menginjak usia dewasa.
Penjelasan-penjelasan di atas merupakan sebuah gambaran akan aktivitas pendidikan seksualitas di wilayah Kedang. Sampai saat ini, mereka sangat taat terhadap tabu karena mengandung banyak konsekuensi bermakna. Untuk mendidik anak-anak tentang seksualitas, biasanya dilakukan dengan cara memberi kesaksian yang benar khususnya dari orangtua terhadap anak. Contohnya cara berpakaian yang sopan yaitu mengenakan sarung khususnya saat mengikuti kegiatan umum tertentu, ke gereja misalnya. Mereka beralasan bahwa seorang anak khususnya perempuan akan lebih sopan jika menampilkan cara berpakaian yang sesuai dengan tradisi lokal di Kedang. Makanya, jika ada pelajar atau Mahasiswa-Mahasiswi yang mengadopsi cara berpakaian yang kurang sopan sesuai kebiasaan di Kedang akan “dicap” tidak bermoral dan dianggap tidak berhasil menampilkan diri sebagai manusia berpendidikan. Hubungan afektif antara anak dan orangtua melahirkan kepekaan moral yang barangkali dipaksaan oleh nuraninya[1].
Saya mengamati bahwa orang Kedang sangat menghormati seksualitas Manusia sehingga berbicara secara langsung tentang seksualitas dianggap “dosa”, makanya mereka menggunakan cara lain untuk mendidik tingkah laku seksual dengan cara berpakaian yang layak atau berpenampilan yang sopan. Artinya, Dalam mendidik tingkah laku seksual, orang Kedang biasanya menggunakan cara simbolis atau memberi kesaksian tanpa berbicara langsung tentang seksualitas apalagi terhadap anak-anak karena ada pesimisme tertentu bahwa anak-anak akan bertingkah laku salah jika orangtua berbicara tentang seksualitas terhadap mereka.
Penutup
Orang Kedang terbukti sangat
menghormati seksualitas manusia. Hal ini dibuktikan melalui kesaksian
berpakaian atau berpenampilan yang sopan. Substansinya jelas bahwa tubuh
Manusia dalam budaya Kedang adalah gambaran sebuah kesucian atau dalam tradisi
Kristen dikenal dengan Imago Dei. Mereka tidak berbicara tentang
seksualitas secara langsung tetapi melalui cara-cara yang lebih riil bukan
sekadar sebuah teori belaka. Berpakaian yang sopan dan indah sesuai tradisi
orang Kedang adalah sebuah cara riil pendidikan seksualitas orang Kedang.
Oleh Rian Odel
[1] Jean Piaget dan Barbel Inhelder,
Psikologi Anak, penerj. Miftahul Jannah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010),
hlm. 137.